EKSKUL YANG MENGEBOHKAN
Sore itu pukul 4, sekolah Aina terdapat kegiatan luar sekolah atau dikenal Ekskul yang mempunyai kepanjangan Ekstra Kurikuler. Ekskul yang ada diantaranya dibidang olahraga, dibidang Seni, Kemanusiaan dan Fiksi yang berupa mading. Dibidang olah raga yaitu bola tenis, basket, tekwondo, dan lari. Dibidang seni yaitu menari, menjahit dan musik. Sedang yang lainnya ada PMI dan Mading.
Aina dan Nami ikut dalam ekskul mading sedang Beti ikut ekskul musik, Tejo ikut karate, Lala ikut PMI, Yanu dan Fuad ikut Basket. Mereka jarang absen mengikuti ekskul tersebut sehingga tak heran jika ada perlombaan, mereka pasti mengikutinya. Oya, satu lagi Meta. Dia ikut bola tenis. Walaupun dari gayanya lebih cocok menari, tetapi dia lebih berminat ke bola tenis. Itu semua dikarenakan Si Pelatih bola tenis. Meta sempat beralasan kalau pelatihnya masih muda dan ganteng luar dalem. “Hem…maksudnya?” Aina, Nami, Beti, Lala hanya bingung mendengarkan alasan dari Meta. Sedangkan Tejo, Yanu, dan Fuad merasa aneh dan takut mendengar jawaban tersebut. Karena mereka mempunyai pengertian jika laki-laki di mata Meta adalah sebuah makanan yang enak luar dalamnya, sungguh tragis.
Hari Senin, ekskul yang ada adalah bola tenis, basket, mading, musik dan PMI. Tejo pada hari ini tidak ekskul, namun ia sering ikut ekskul basket bersama Yanu dan Fuad. Tejo adalah bukan nama aslinya. Nama aslinya sebenarnya Tri Eko Juantoro. Dia lebih sering dipanggil Tejo karena itu merupakan Akronimn dari nama aslinya.
Sebelum ekskul dimulai, teman-teman Aina pergi ke kantin Bu Yani untuk makan siang. “Ai..yuk makan!” Ajak Nami yang sedang berjalan bersama Beti, Lala, Meta. “Iya, yuk Ai!” tambah Beti dan Lala bersama-sama. “Oya makasih, baru diet nie.” jawab Aina yang sambil terkekeh-kekeh. Secara spontan Lala ingat bahwa ini adalah hari Senin, itu berarti sahabatnya sedang menjalankan puasa sunah.“Oh, maaf Ai. Kita ke kantin dulu ya..!” ucap Lala sambil meninggalkan Aina. “Yo’i!” balas Aina.
Kantin bu Yani didominasi oleh cewek-cewek sedangkan kantin Bu Ambar didominasi oleh cowok-cowok. Maklum, tak hanya kelas dua merasa perutnya keroncongan pada siang itu tapi kakak kelas juga yang akan mengikuti praktikum ikut membanjiri kantin bu Yani. Suasana panas dan gaduh dirasakan Lala beserta teman-temannya ketika antri menunggu Soto Ayam. Soto ayam didapat, mereka pun langsung melahapnya.
Ketika berjalan menuju ruang mading, Aina bertemu dengan Yanu, Tejo, dan Fuad sedang membawa bola basket. Sambil memantulkan bola ke lantai, Yanu bertanya kepada Aina. “Kok sendirian Ai, mana Beti, Lala, dan Nami?”.
“Mereka di kantin, biasa cari mangsa hehe.” Aina menghentikan langkahnya.
“Wuih! Mangsa? Kanibal dunk!” Sahut Tejo bersandar di tembok ruangan kelas.
“Jo..Jo, emang mereka pemangsa manusia? Mungkin jika iya, manusia pertama kali yang mereka makan adalah kamu! Hehe,” balas Yanu ikut bersandar.
“Kalian ini ada-ada saja, Aina juga, kenapa celetuk kata-kata mangsa, kan jadi sakit nie perut!” Fuad yang dari tadi memegang perutnya menahan tawa atas obrolan teman-temannya.
“Eh, benaran kalii..Tuh! Mereka datang.” Aina sambil menunjuk segerombolan cewek yang sedang berjalan menuju ke arah mereka.
“Hayoo pada ngomongin apa ni? ”, Lala sambil berjalan mendekati Aina, Tejo, Fuad,dan Yanu. “Iya, kelihatannya seru!” timpal Nami tak kalah beda.
“Enggak ngomongin apa-apa kok,” Yanu menggelengkan kepalanya.
“Iya, nggak penting. By the way nie ya, kalian habis dari mana? Kok baru datang?” Fuad memindahkan arah tubuhnya.
“Owh…kita dari cari mangsa tuh di kantin Bu Yani.” Lala menunjuk ke arah kantin.
Spontan mendengar jawaban dari Lala tersebut, gelak tawa Tejo, Yanu dan Fuad terdengar sambil kedua tangan memegang perutnya.
“Ya Alloh…!” Fuad yang mukanya seperti tomat masak menahan ketawa. “Astaghfirulloh..!”Timpal Yanu. “Duh Gusti, paringana sabar..!”, sambung Tejo.
“Eh, kalian tu kenapa?” tanya Lala merasa aneh atas sikap ketiga temannya itu. “Woalah…kalo mencari kata itu yang agak tepatlah, banyak kata-kata yang lebih tepat daripada kata mangsa kan?” tanya Fuad. “Oh itu tow yang bikin kalian ketawa sampai segitunya?” tanya Lala menghela napas sambil meletakkan tangannya dipinggang. Ketiga cowok itu mengangguk-angguk. “Itu kan kata-kata yang dah biasa di kalangan kami. Ketiga cowok itu hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar jawaban dari Lala. “Ya sudah, kita pergi dulu ya!” ucap Yanu. “Lho kalian mau kemana? Bukannya lapangan basket ke arah selatan? Kok ke arah timur?” tanya Aina mengenyitkan keningnya.
“Owh, kita mo kesana dulu Ai,” jawab Fuad sambil menunjuk arah timur yang tanpa sadar oleh Fuad bahwa telunjuknya menunjuk arah toilet. Aina dan teman-temannya melihat arah telunjuk Fuad dan secara spontan berkata “Ha?!” disusul dengan gelak tawa oleh para kaum hawa tersebut. Fuad hanya tersipu malu, melihat kenyataan itu. Tejo, Fuad dan Yanu segera berlari meninggalkan Aina dan teman-temannya.
Ruang tenis, Meta mengambil raket dan bola tenis terkadang dia merasa gemas dengan bola tersebut karena ukurannya kecil dan bulat. Pak Andry sudah memulai ekskul bola tenisnya. Pemanasan dimulai tentang bagaimana mengayunkan tangan sambil menggunakan raket. Posisi tersebut haruslah benar agar menghasilkan server yang baik. Pak Andry berjalan mendekati Meta, karena dari awal gerakan Meta kurang sempurna. Pak Andry mencontohkan posisi badan ketika mengayunkan raket. Meta memperhatikannya dengan seksama.
Di lapangan basket, ekskul basket sudah dimulai. Yanu dan Fuad sudah mulai bermain. Tejo hanya duduk dan melihat pertandingan itu sambil mendengarkan musik lewat earphonenya. Ketika permainan basket dimulai, bola keluar. Yanu meminta Tejo untuk mengambilkan bola tersebut. Simbol telunjuk dan ibu jari yang membentuk lingkaran membalas permintaan Yanu. Ketika berjalan menuju bola tersebut, Tejo tersenyum melihat Aina dan Nami yang sedang mencari daun cemara kering untuk hiasan madingnya yang minggu ini bertema musim kemarau. Aina dan Nami membalasnya dengan senyum. Untuk kedua kalinya Tejo membalas senyum mereka sambil menunjukkan jempolnya yang menandakan kerja yang bagus. Tiba-tiba Tejo melihat Meta yang sedang berlatih mengayunkan raket. Meta terlihat lucu ketika mengayunkan raketnya. Lebih mirip dengan tari piring. Mata Tejo melotot dan tertawa melihatnya. Meta melihat Tejo tertawa ngakak melihatnya agak kesal dan malu. “ Hieh! Awas kamu Jo! Jika kau dekat kutimpuk dengan raket ini! ” geram Meta dalam hatinya. Tiba-tiba Pak Andry datang lagi. “Meta, mana semangatnya? Kok lemas? Seperti ini!” Pak Andry sambil memperagakan cara mengayunkan raket dengan posisi server. “Iya, Pak!” kata Meta grogi. Karena terlalu bersemangat, raket yang dipegang Meta terlempar, mata Meta dan Pak Andry mengarah pada raket tersebut. Suara musik dari ruang seni mengiringi jejak raket yang terlempar dari Meta. Tak disangka raket tersebut menuju ke arah Tejo yang sedang membungkuk mengambil bola basket. “Brakk!” raket itu mengenakan punggung tangan kanan Tejo pada waktu itu sedang membawa bola mengarah ke lapangan basket. Secara spontan. “Allohu Akbar!!!”, teriak Tejo kaget menerima raket yang mendarat di punggungngnya. Meta dan Pak Andry sangat terkejut. Bola yang di bawa Tejo tadi terlempar. Suara musik mengiringi lagi jejak bola yang terlempar dari Tejo dan ke arah Nami ketika sedang mencari daun cemara kering. Posisi badan Nami ketika itu sedang membungkuk. Bola tersebut mengenai bagian punggung Nami. “Dukk!”, disusul oleh suara Nami,” Innalillahi…!”. Anak-anak baik anak bola tenis maupun basket hanya bisa melihat bola jatuh ke arah Nami. Nami seketika itu tersungkur di atas timbunan daun kering. Bola tersebut belumlah puas, ia terpental lagi dan segera ditangkap oleh Aina. “Hap!”. Fuad dan Yanu segera menghampiri Tejo yang sedang kesakitan karena lengan belakangnya mulai membiru dan membawanya ke UKS. Sedangkan Aina segera meletakkan bola dan membantu Nami untuk bangun dan membawanya ke UKS juga. Waktu itu hanya Lala yang sedang bertugas jadi ia meminta Yanu dan Fuad untuk mengompreskan kain hangat ke lengan Tejo. Sedangkan Nami segera mencuci tangan dan hidungnya karena tergores. Meta minta maaf dan menceritakan sebab terjadinya kecelakaan itu. Tejo juga meminta maaf kepada Nami. Dalam UKS tersebut terdengar suara canda tawa, disebabkan ketika Meta dengan polosnya meminta maaf karena terlalu semangatnya diperintah oleh Pak Andry untuk bersemangat mengayunkan raket.
